Kamis, 18 September 2014

Sejarah Nabi Muhammad SAW

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM                           (3/4)
Muhammad Husain Haekal
 
Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkan
bersama  orang  Yaman  itu  -  yang  membawa surat - sepasukan
tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha  al-Asyram
salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas
nama penguasa Abisinia. Ia  memerintah  Yaman  ini  sampai  ia
dibunuh  oleh  Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya.
Abraha inilah  yang  memimpin  pasukan  gajah,  dan  dia  yang
kemudian  menyerbu  Mekah  guna  menghancurkan  Ka'bah  tetapi
gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.
 
Anak-anak Abraha  kemudian  menguasai  Yaman  dengan  tindakan
sewenang-wenang.  Melihat  bencana  yang  begitu  lama menimpa
penduduk, Saif bin Dhi Yazan  pergi  hendak  menemui  Maharaja
Rumawi.  Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya
mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman.  Tetapi  karena
adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan
Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi  permintaan  Saif  bin
Dhi  Yazan  itu.  Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan
pergi  menemui  Nu'man  bin'l-Mundhir  selaku  Gubernur   yang
diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.3
 
Nu'man  dan  Saif  bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap
Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk dalam Ruangan  Resepsi
(Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan bimasakti
pada bagian tahta itu. Di tempat musim  dinginnya  bagian  ini
dikelilingi  dengan  tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah
sekali. Di tengah-tengah itu bergantungan  lampu-lampu  kendil
terbuat  daripada  perak  dan  emas dan diisi penuh dengan air
tawar. Di atas tahta itulah  terletak  mahkotanya  yang  besar
berhiaskan  batu  delima, kristal dan mutiara bertali emas dan
perak, tergantung dengan rantai dari  emas  pula.  Ia  sendiri
memakai  pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat
itu akan merasa terpesona  oleh  kemegahannya.  Demikian  juga
halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.
 
Kisra   menanyakan   maksud   kedatangannya  itu  dan  Saifpun
bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada
mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan
juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?),  salah
seorang  keluarga  ningrat  Persia  yang paling berani. Persia
telah  mendapat  kemenangan  dan  orang-orang  Abisinia  dapat
diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72 tahun itu.
 
Sejak  itulah  Yaman  berada  di  bawah  kekuasaan Persia, dan
ketika Islam  lahir  seluruh  daerah  Arab  itu  berada  dalam
naungan agama baru ini.
 
Akan  tetapi  orang-orang asing yang telah menguasai Yaman itu
tidak langsung di bawah kekuasaan Raja  Persia.  Terutama  hal
itu  terjadi  setelah  Syirawih  (Shiruya  Kavadh II) membunuh
ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri  menduduki  takhta.  Ia
membayangkan  -  dengan  pikirannya yang picik itu bahwa dunia
dapat  dikendalikan  sekehendaknya   dan   bahwa   kerajaannya
membantu  memenuhI  kehendaknya  yang sudah hanyut dalam hidup
kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan  banyak  sekali  yang
tidak  mendapat  perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya
sendiri. Ia pergi memburu dalam  suatu  kemewahan  yang  belum
pernah   terjadi  Ia  berangkat  diiringi  oleh  pemuda-pemuda
ningrat berpakaian merah, kuning  dan  lembayung,  dikelilingi
oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau
yang sudah dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak
yang  membawa  wangi-wangian, oleh pengusir-pengusir lalat dan
pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya dalam suasana musim
semi  sekalipun  sebenarnya  dalam musim dingin yang berat, ia
beserta  rombongannya  duduk  di  atas  permadani  yang  lebar
dilukis  dengan  lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami
bunga-bungaan   aneka   warna,   dan   dilatarbelakangi   oleh
semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna perak.
 
Tetapi    sungguhpun    Syirawih    begitu    jauh   mengikuti
kesenangannya,  kerajaan  Persia  tetap  dapat  mempertahankan
kemegahannya,  dan  tetap  merupakan  lawan yang kuat terhadap
kekuasaan Bizantium dan penyebaran Kristen.  Sekalipun  dengan
naik   tahtanya   Syirawih   ini   telah  mengurangi  kejayaan
kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum  Muslimin
memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.
 
Yaman  yang telah dijadikan gelanggang pertentangan sejak abad
ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas yang dalam sekali
dalam   sejarah   Semenanjung   Arab   dari   segi   pembagian
penduduknya.  Disebutkan  bahwa  Bendungan  Ma'rib  yang  oleh
suku-bangsa   Himyar   telah   dimanfaatkan  untuk  keuntungan
negerinya, telah hancur pula dilanda banjir besar.  Disebabkan
oleh  adanya  pertentangan  yang  terus-menerus  itu, lalailah
mereka  yang  harus  selalu   mengawasi   dan   memeliharanya.
Bendungan  itu  lapuk  dan  tidak  tahan  lagi menahan banjir.
Dikatakan juga, bahwa setelah  Rumawi  melihat  Yaman  menjadi
pusat  pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa
perdagangannya  terancam  karena   pertentangan   itu,   iapun
menyiapkan  armadanya  menyeberangi  Laut Merah - antara Mesir
dengan  negeri-negeri  Timur  yang   jauh   -   guna   menarik
perdagangan  yang  dibutuhkan  oleh negerinya. Dengan demikian
tidak perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.
 
Mengenai peristiwanya, ahli-ahli  sejarah  sependapat,  tetapi
mengenai  sebab  terjadinya  peristiwa  itu  mereka  berlainan
pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di
Yaman  ke  Utara.  Semua  mereka sependapat tentang kepindahan
ini,  sekalipun  sebagian  menghubungkannya   dengan   sepinya
beberapa kota di Yaman karena mundurnya perdagangan yang biasa
melalui tempat  itu.  Yang  lain  menghubung-hubungkan  kepada
rusaknya   bendungan   Ma'rib,   sehingga   banyak  di  antara
kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun
juga  kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan
Yaman jadi  berhubungan  dengan  negeri-negeri  Arab  lainnya,
suatu  hubungan keturunan dan percampuran yang sampai sekarang
masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.
 
Apabila sistem politik di Yaman sudah  menjadi  kacau  seperti
yang  dapat  kita  saksikan, yang disebabkan oleh keadaan yang
menimpa  negeri  itu  serta  dijadikannya  tempat  itu   medan
pertarungan,  maka  struktur  politik serupa itu tidak dikenal
pada beberapa  negeri  Semenanjung  Arab  lainnya  waktu  itu.
Segala  macam  sistem yang dapat dianggap sebagai suatu sistem
politik  seperti  pengertian  kita   sekarang   atau   seperti
pengertian  negara-negara  yang  sudah  maju pada masa itu, di
daerah-daerah  seperti  Tihama,  Hijaz,  Najd  dan   sepanjang
dataran  luas  yang  meliputi  negeri-negeri  Arab, pengertian
demikian itu belum dikenal. Anak negeri pada masa  itu  bahkan
sampai  sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa di
kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat.
Yang   mereka   kenal   hanyalah   hidup   mengembara  selalu,
berpindah-pindah mencari padang rumput dan menuruti  keinginan
hatinya.   Mereka   tidak  mengenal  hidup  cara  lain  selain
pengembaraan itu.
 
Seperti  juga  ditempat-tempat  lain,  disinipun  dasar  hidup
pengembaraan  itu  ialah  kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu
pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu peraturan  atau
tata-cara  seperti  yang  kita  kenal.  Mereka  hanya mengenal
kebebasan pribadi, kebebasan keluarga  dan  kebebasan  kabilah
yang  penuh.  Sedang  orang  kota,  atas  nama tata-tertib mau
mengalah  dan  membuang  sebagian  kemerdekaan  mereka   untuk
kepentingan  masyarakat  dan  penguasa,  sebagai  imbalan atas
ketenangan  dan  kemewahan  hidup   mereka.   Sedang   seorang
pengembara  tidak  pedulikan  kemewahan,  tidak  betah  dengan
ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apapun  -
seperti  kekayaan  yang  menjadi  harapan  orang kota - selain
kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup  dalam  persamaan
yang    penuh    dengan    anggota-anggota   kabilahnya   atau
kabilah-kabilah  lain  sesamanya.  Dasar  kehidupannya   ialah
seperti  makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan terus
sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang  sudah
ditanamkan dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.
 
Oleh  karena  itu,  kaum  pengembara  tidak  menyukai tindakan
ketidak adilan  yang  ditimpakan  kepada  mereka.  Mereka  mau
melawannya   mati-matian,   dan  kalau  tidak  dapat  melawan,
ditinggalkannya  tempat  tinggal  mereka   itu,   dan   mereka
mengembara lagi ke seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus
demikian.
 
Juga itu pula sebabnya, perang adalah jalan yang paling  mudah
bagi  kabilah-kabilah  ini bila harus juga timbul perselisihan
yang tidak mudah  diselesaikan  dengan  cara  yang  terhormat.
Karena  bawaan  itu  juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian
besar kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri,  keberanian,
suka   tolong-menolong,   melindungi   tetangga   serta  sikap
memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya. Sifat-sifat ini akan
makin   kuat   apabila   semakin  dekat  ia  kepada  kehidupan
pedalaman, dan akan makin  hilang  apabila  semakin  dekat  ia
kepada kehidupan kota.
 
Seperti kita sebutkan, karena faktor-faktor ekonomi juga, baik
Rumawi maupun Persia, hanya merasa tertarik kepada Yaman  saja
dari  antara jazirah lainnya yang memang tidak mau tunduk itu.
Mereka lebih  suka  meninggalkan  tanah  air  daripada  tunduk
kepada  perintah.  Baik  pribadi-pribadi  atau kabilah-kabilah
tidak akan taat kepada  peraturan  apapun  yang  berlaku  atau
kepada lembaga apapun yang berkuasa.
 
Sifat-sifat  pengembaraan  itu  cukup mempengaruhi daerah yang
kecil-kecil yang tumbuh  di  sekitar  jaziarah  karena  adanya
perdagangan  para  kafilah, seperti yang sudah kita terangkan.
Daerah-daerah ini dipakai oleh para  pedagang  sebagai  tempat
beristirahat  sesudah  perjalanan  yang  begitu meletihkan. Di
situ mereka bertemu dengan tempat-tempat  pemujaan  sang  dewa
guna  memperoleh  keselamatan  bagi  mereka  serta  menjauhkan
marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan  mereka
selamat sampai di tempat tujuan.
 
Kota-kota  seperti  Mekah, Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu
seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung
atau   gurun   pasir,   terpengaruh   juga   oleh  sifat-sifat
pengembaraan  demikian  itu.  Dalam  susunan   kabilah   serta
cabang-cabangnya,    perangai   hidup,   adat-istiadat   serta
kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih
dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di
kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu  cara  hidup  yang
menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman.
Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut
ini akan terlihat agak lebih terperinci.

Lingkungan  masyarakat  dalam  alam demikian ini serta keadaan
moral, politik dan sosial  yang  ada  pada  mereka,  mempunyai
pengaruh   yang   sama   terhadap  cara  beragamanya.  Melihat
hubungannya dengan agama Kristen  Rumawi  dan  Majusi  Persia,
adakah  Yaman  dapat  terpengaruh  oleh  kedua  agama  itu dan
sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut  di  jazirah  Arab
lainnya?  Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama
mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada  pada  masa  itu
sama  giatnya  seperti  yang  sekarang  dalam mempropagandakan
agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta  cara  hidup
kaum  pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan
kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia  merasakan
adanya  wujud  yang  tak  terbatas  dalam segala bentuknya. Ia
merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara  dirinya  dengan
alam  dengan  ketak-terbatasannya  itu. Sedang bagi orang kota
ketak-terbatasan  itu   sudah   tertutup   oleh   kesibukannya
hari-hari,   oleh   adanya  perlindungan  masyarakat  terhadap
dirinya  sebagai  imbalan  atas  kebebasannya  yang  diberikan
sebagian  kepada  masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada
undang-undang  penguasa  supaya  memperoleh  jaminan  dan  hak
perlindungan.   Hal  ini  menyebabkannya  tidak  merasa  perlu
berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan  kekuatan
alam  yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan
jiwa  dengan  unsur-unsur  alam  yang   di   sekitarnya   jadi
berkurang.
 
Dalam  keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen
dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan
dalam  menyebarkan  ajaran  agamanya  itu?  Barangkali soalnya
hanya akan sampai di  situ  saja  kalau  tidak  karena  adanya
soal-soal   lain  yang  menyebabkan  negeri-negeri  Arab  itu,
termasuk  Yaman,   tetap   bertahan   pada   paganisma   agama
nenek-moyangnya,  dan  hanya  beberapa  kabilah  saja yang mau
menerima agama Kristen.
 
Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu  -
seperti  yang  sudah  kita saksikan - berpusat di sekitar Laut
Tengah  dan  Laut  Merah.  Agama-agama  Kristen   dan   Yahudi
bertetangga  begitu  dekat  sekitar tempat itu. Kalau keduanya
tidak  memperlihatkan  permusuhan  yang  berarti,  juga  tidak
memperlihatkan  persahabatan  yang  berarti  pula. Orang-orang
Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut
adanya  pembangkangan  dan  perlawanan  Nabi  Isa kepada agama
mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja  mau  membendung  arus
agama  Kristen  yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan
yang masih  berlindung  dibawah  panji  Imperium  Rumawi  yang
membentang luas itu.
 
                                    (bersambung ke bagian 4/4)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM                           (4/4)
Muhammad Husain Haekal
 
Orang-orang   Yahudi  di  negeri-negeri  Arab  merupakan  kaum
imigran yang besar, kebanyakan mereka  tinggal  di  Yaman  dan
Yathrib.  Di  samping  itu  kemudian  agama Majusi (Mazdaisma)
Persia tegak menghadapi arus  kekuatan  Kristen  supaya  tidak
sampai  menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan
moril demikian itu didukung oleh  keadaan  paganisma  di  mana
saja  ia  berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang
di tangannya, ialah sesudah pindahnya  pusat  peradaban  dunia
itu ke Bizantium.
 
Gejala-gejala  kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya
sekta-sekta Kristen yang sampai menimbulkan  pertentangan  dan
peperangan antara sesama mereka. Ini membawa akibat merosotnya
martabat iman yang tinggi ke dalam kancah  perdebatan  tentang
bentuk  dan  ucapan,  tentang  sampai di mana kesucian Mariam:
adakah ia yang lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau  anak
yang  lebih  utama dari ibu - suatu perdebatan yang terjadi di
mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa  akibat  hancurnya
apa yang sudah biasa berlaku.
 
Ini  tentu  disebabkan  oleh karena isi dibuang dan kulit yang
diambil, dan terus menimbun kulit itu  di  atas  isi  sehingga
akhirnya  mustahil  sekali  orang  akan dapat melihat isi atau
akan menembusi timbunan kulit itu.
 
Apa yang telah menjadi pokok  perdebatan  kaum  Nasrani  Syam,
lain  lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira
dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun,  melihat  hubungannya
dengan  orang-orang  Nasrani,  tidak  akan berusaha mengurangi
atau menenteramkan perdebatan semacam  itu.  Oleh  karena  itu
sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum
Nasrani Syam dan Yaman  dalam  perjalanan  mereka  pada  musim
dingin  atau  musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang
datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu
di  antara  golongan-golongan  itu.  Mereka  sudah puas dengan
kehidupan agama berhala yang  ada  pada  mereka  sejak  mereka
dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.
 
Oleh  karena  itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur
di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian  inipun  sampai
kepada  tetangga-tetangga  mereka  yang  beragama  Kristen  di
Najran  dan  agama  Yahudi  di  Yathrib,  yang  pada   mulanya
memberikan   kelonggaran   kepada   mereka,   kemudian   turut
menerimanya. Hubungan  mereka  dengan  orang-orang  Arab  yang
menyembah  berhala  untuk  mendekatkan  diri  kepada Tuhan itu
baik-baik saja.
 
Yang menyebabkan orang-orang  Arab  itu  tetap  bertahan  pada
paganismanya  bukan  saja  karena  ada  pertentangan di antara
golongan-golongan Kristen.  Kepercayaan  paganisma  itu  masih
tetap  hidup  di  kalangan  bangsa-bangsa  yang sudah menerima
ajaran  Kristen.  Paganisma  Mesir  dan  Yunani  masih   tetap
berpengaruh  ditengah-tengah  pelbagai  mazhab  yang  beraneka
macam dan di  antara  pelbagai  sekta-sekta  Kristen  sendiri.
Aliran   Alexandria   dan   filsafat  Alexandria  masih  tetap
berpengaruh,  meskipun  sudah  banyak  berkurang  dibandingkan
dengan   masa  Ptolemies  dan  masa  permulaan  agama  Masehi.
Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap  merasuk  ke  dalam  hati
mereka.   Logikanya   yang  tampak  cemerlang  sekalipun  pada
dasarnya  masih  bersifat  sofistik  -  dapat   juga   menarik
kepercayaan   paganisma   yang   polytheistik,   yang   dengan
kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.
 
Saya kira inilah yang lebih  kuat  mengikat  jiwa  yang  masih
lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita
sekarang ini. Jiwa  yang  lemah  itu  tidak  sanggup  mencapai
tingkat  yang  lebih  tinggi,  jiwa yang akan menghubungkannya
pada semesta alam sehingga ia dapat memahami  adanya  kesatuan
yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari
semua yang ada dalam wujud ini,  menjelma  dalam  Wujud  Tuhan
Yang  Maha  Esa.  Kepercayaan  demikian  itu hanya sampai pada
suatu manifestasi alam saja  seperti matahari, bulan atau  api
misalnya.  Lalu  tak  berdaya  lagi mencapai segala yang lebih
tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam
kesatuannya itu.
 
Bagi  jiwa  yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia
akan membawa gambaran yang  masih  kabur  dan  rendah  tentang
pengertian  wujud  dan  kesatuannya.  Dalam hubungannya dengan
berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus,
yang  sampai  sekarang  masih  dapat  kita saksikan di seluruh
dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya  modern  dalam
ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya
mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus  di  Roma,
mereka  melihat  kaki  patung  Santa  Petrus yang didirikan di
tempat  itu   sudah   bergurat-gurat   karena   diciumi   oleh
penganut-penganutnya,  sehingga  setiap  waktu terpaksa gereja
memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.
 
Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat
petunjuk  Tuhan  kepada  iman  yang  sebenarnya Mereka melihat
pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang  menjadi  tetangga
mereka  serta  cara-cara  hidup  paganisma yang masih ada pada
mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang  masih  menyembah
berhala  itu  sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa
kita tak akan memaafkan mereka.  Situasi  demikian  ini  sudah
begitu  berakar  di  seluruh  dunia, tak putus-putusnya sampai
saat ini, dan saya kira memang  tidak  akan  pernah  berakhir.
Kaum  Muslimin  dewasa  inipun  membiarkan paganisma itu dalam
agama mereka, agama yang datang  hendak  menghapus  paganisma,
yang  datang  hendak  menghilangkan  segala penyembahan kepada
siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.
 
Cara-cara penyembahan  berhala  orang-orang  Arab  dahulu  itu
banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan
dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui  seluk-beluknya.
Nabi  sendiri  telah  menghancurkan  berhala-berhala  itu  dan
menganjurkan  para  sahabat  menghancurkannya  di  mana   saja
adanya.  Kaum  Muslimin  sudah  tidak  lagi bicara tentang itu
sesudah semua  yang  berhubungan  dengan  pengaruh  itu  dalam
sejarah  dan  lektur  dihilangkan.  Tetapi apa yang disebutkan
dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam  abad
kedua  Hijrah  - sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda
karenanya - menunjukkan, bahwa sebelum Islam  paganisma  dalam
bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi.
 
Di    samping    itu    menunjukkan   pula   bahwa   kekudusan
berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap  kabilah
atau  suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan.
Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda  pula
antara  sebutan  shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub.
Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu,
Wathan  demikian  juga  dibuat dari batu, sedang nushub adalah
batu karang tanpa  suatu  bentuk  tertentu.  Beberapa  kabilah
melakukan    cara-cara   ibadahnya   sendiri-sendiri.   Mereka
beranggapan batu  karang  itu  berasal  dari  langit  meskipun
agaknya  itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara
berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal  dari
Yaman.  Hal  ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka
tidak dikenal di Hijaz, Najd atau  di  Kinda.  Sayang  sekali,
buku-buku   tentang   berhala   ini  tidak  melukiskan  secara
terperinci bentuk-bentuk berhala itu,  kecuali  tentang  Hubal
yang  dibuat  dari  batu  akik dalam bentuk manusia, dan bahwa
lengannya pernah rusak dan oleh  orang-orang  Quraisy  diganti
dengan  lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang
paling besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah. Orang-orang
dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.
 
Tidak   cukup  dengan  berhala-berhala  besar  itu  saja  buat
orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang  dan  memberikan
kurban-kurban,  tetapi  kebanyakan  mereka  itu mempunyai pula
patung-patung dan berhala-berhala dalam  rumah  masing-masing.
Mereka  mengelilingi  patungnya  itu  ketika  akan keluar atau
sesudah kembali pulang, dan dibawanya  pula  dalam  perjalanan
bila  patung  itu  mengijinkan ia bepergian. Semua patung itu,
baik yang ada dalam  Ka'bah  atau  yang  ada  disekelilingnya,
begitu  juga  yang  ada  di  semua  penjuru  negeri  Arab atau
kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara  penganutnya
dengan  dewa  besar.  Mereka beranggapan penyembahannya kepada
dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada  Tuhan  dan  menyembah
kepada  Tuhan  sudah  mereka  lupakan  karena  telah menyembah
berhala-berhala itu.
 
Meskipun Yaman  mempunyai  peradaban  yang  paling  tinggi  di
antara  seluruh  jazirah  Arab, yang disebabkan oleh kesuburan
negerinya serta pengaturan pengairannya yang  baik,  namun  ia
tidak   menjadi  pusat  perhatian  negeri-negeri  sahara  yang
terbentang  luas  itu,  juga  tidak  menjadi  pusat  keagamaan
mereka.  Tetapi  yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka'bah
sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang  berkunjung  dan  ke
tempat  itu  pula  orang  melepaskan pandang. Bulan-bulan suci
sangat dipelihara melebihi tempat lain.
 
Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan  jazirah  Arab
yang istimewa, Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah.
Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah kelahiran
Nabi   Muhammad,   dan  dengan  demikian  ia  menjadi  sasaran
pandangan dunia sepanjang zaman. Ka'bah  tetap  disucikan  dan
suku  Quraisy masih menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun
mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi yang kasar  sejak
berabad-abad lamanya.
 
Catatan kaki:
 
 1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.
   
 2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah.
   Encylopedia Britannica juga menyebutnya, dan dikutip oleh
   penulis-penulis buku Historian's History of the World dan juga
   dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de
   Mahomet. Akan tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn
   Muhammad bahwa setelah orang Yaman itu pergi meminta bantuan
   Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan apa yang
   telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela
   agama Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah
   sebagian dimakan api, Najasyi berkata: "Tenaga manusia di sini
   banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku menulis surat
   kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan
   kukirimkan pasukanku." Lalu ia menulis surat kepada Kaisar
   dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan:
   "Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu
   sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan
   berangkat ke pantai Mandab." Lihat Tarikh't-Tabari cetakan
   Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.
   
 3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda
   tentang sebab penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman.
   Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara Arab
   Musta'riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus
   berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang
   sepanjang Laut Merah lengkap dengan armada perdagangannya.
   Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin sekali
   menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi
   di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya
   dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang
   Najran. Tetapi karena adanya penyakit yang menyerang mereka.
   Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan
   merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawõ
   berturut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar
   Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih menguntungkan dan yang
   pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di Abisinia
   merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah
   memaksakan agama Yahudi terhadap orangorang Rumawi yang
   beragama Kristen. Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan
   berkuasa di tempat itu sampai pada waktu Persia datang
   mengusir mereka.
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1
Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis

Kamis, 04 September 2014

Kisah Nabi Muhammad SAW

Perkawinan Abdullah dengan Aminah - Abdullah wafat -
   Muhammad lahir disusukan oleh Keluarga Sa'd - Kisah
   dua malaikat - Lima tahun selama tinggal di pedalaman
   - Aminah wafat - Di bawah asuhan Abd'l-Muttalib -
   Abd'l-Muttalib wafat - Di bawah asuhan Abu Talib -
   Pergi ke Suria dalam usia dua belas tahun- Perang
   Fijar - Menggembala kambing - Ke Suria membawa
   dagangan Khadijah - Perkawinannya dengan Khadijah

USIA Abd'l-Muttalib sudah  hampir  mencapai  tujuhpuluh  tahun
atau   lebih   tatkala  Abraha  mencoba  menyerang  Mekah  dan
menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu  umur  Abdullah  anaknya
sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan.
Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb  bin  Abd
Manaf  bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai
pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka  pergilah
anak-beranak  itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan
anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya.  Sebagian  penulis
sejarah  berpendapat,  bahwa  ia  pergi  menemui  Uhyab, paman
Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah  meninggal  dan  dia  di
bawah  asuhan  pamannya.  Pada hari perkawinan Abdullah dengan
Aminah itu, Abd'l-Muttalib  juga  kawin  dengan  Hala,  puteri
pamannya.  Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan
yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah  tinggal  selama  tiga  hari  di  rumah
Aminah,  sesuai  dengan  adat  kebiasaan  Arab bila perkawinan
dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah  itu
mereka  pindah  bersama-sama  ke  keluarga Abd'l-Muttalib. Tak
seberapa lama kemudian Abdullahpun  pergi  dalam  suatu  usaha
perdagangan  ke  Suria  dengan  meninggalkan isteri yang dalam
keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa  keterangan
yang  berbeda-beda:  adakah  Abdullah kawin lagi selain dengan
Aminah;  adakah  wanita  lain  yang  datang  menawarkan   diri
kepadanya?     Rasanya    tak    ada    gunanya    menyelidiki
keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti  ialah  Abdullah
adalah  seorang  pemuda  yang tegap dan tampan. Bukan hal yang
luar biasa jika ada wanita lain yang ingin  menjadi  isterinya
selain  Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu
hilanglah harapan yang lain walaupun  untuk  sementara.  Siapa
tahu,   barangkali   mereka  masih  menunggu  ia  pulang  dari
perjalanannya ke  Syam  untuk  menjadi  isterinya  di  samping
Aminah.

Dalam  perjalanannya  itu  Abdullah  tinggal  selama  beberapa
bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali  lagi.
Kemudian  ia  singgah  ke  tempat  saudara-saudara  ibunya  di
Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam
perjalanan.  Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah
ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita  sakit  di  tempat
saudara-saudara  ibunya  itu.  Kawan-kawannyapun  pulang lebih
dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan  berita
sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Begitu  berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith
- anaknya yang sulung - ke  Medinah,  supaya  membawa  kembali
bila  ia  sudah  sembuh.  Tetapi  sesampainya  di  Medinah  ia
mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan
pula,   sebulan   sesudah   kafilahnya   berangkat  ke  Mekah.
Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan  membawa  perasaan
pilu  atas  kematian  adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa
hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan
seorang  suami  yang  selama  ini  menjadi harapan kebahagiaan
hidupnya. Demikian juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya
sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa
belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah  wafat  terdiri  dari  lima  ekor
unta,  sekelompok  ternak kambing dan seorang budak perempuan,
yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh  Nabi.  Boleh
jadi   peninggalan   serupa  itu  bukan  berarti  suatu  tanda
kekayaan; tapi  tidak  juga  merupakan  suatu  kemiskinan.  Di
samping  itu  umur  Abdullah yang masih dalam usia muda belia,
sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada
itu  ia  memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih
hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti  wanita  lain  iapun
melahirkan.  Selesai  bersalin  dikirimnya berita kepada Abd'l
Muttalib  di  Ka'bah,  bahwa  ia   melahirkan   seorang   anak
laki-laki.  Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima
berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira
sekali  hatinya  karena  ternyata pengganti anaknya sudah ada.
Cepat-cepat ia menemui menantunya itu,  diangkatnya  bayi  itu
lalu  dibawanya  ke  Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini
tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian
dikembalikannya  bayi  itu  kepada  ibunya. Kini mereka sedang
menantikan orang yang akan menyusukannya  dari  Keluarga  Sa'd
(Banu  Sa'd),  untuk  kemudian  menyerahkan anaknya itu kepada
salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum
bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai  tahun  ketika  Muhammad  dilahirkan,  beberapa  ahli
berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah
(570  Masehi).  Ibn  Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun
Gajah itu. Yang lain berpendapat  kelahirannya  itu  limabelas
tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan
ia dilahirkan beberapa hari  atau  beberapa  bulan  atau  juga
beberapa  tahun  sesudah  Tahun  Gajah. Ada yang menaksir tiga
puluh tahun, dan ada  juga  yang  menaksir  sampai  tujuhpuluh
tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya.
Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada
yang  berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat
dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab,
sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan  pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan.
Satu pendapat mengatakan pada malam kedua  Rabiul  Awal,  atau
malam   kedelapan,   atau   kesembilan.  Tetapi  pada  umumnya
mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas  Rabiul
Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya   terdapat   perbedaan   pendapat  mengenai  waktu
kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian  juga  mengenai
tempat  kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai
sur  l'Histoire  des   Arabes   menyatakan,   bahwa   Muhammad
dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia
dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.

Pada  hari  ketujuh  kelahirannya  itu  Abd'l-Muttalib   minta
disembelihkan   unta.   Hal   ini  kemudian  dilakukan  dengan
mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui
bahwa  anak  itu  diberi  nama Muhammad, mereka bertanya-tanya
mengapa ia tidak suka memakai nama nenek  moyang.  "Kuinginkan
dia akan  menjadi  orang  yang Terpuji,1  bagi Tuhan di langit
dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib.

Aminah masih menunggu  akan  menyerahkan  anaknya  itu  kepada
salah  seorang  Keluarga  Sa'd  yang  akan menyusukan anaknya,
sebagaimana sudah menjadi kebiasaan  bangsawan-bangsawan  Arab
di    Mekah.    Adat   demikian   ini   masih   berlaku   pada
bangsawan-bangsawan  Mekah.  Pada   hari   kedelapan   sesudah
dilahirkan  anak  itupun  dikirimkan  ke  pedalaman  dan  baru
kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh
tahun.  Di  kalangan  kabilah-kabilah  pedalaman yang terkenal
dalam menyusukan ini di antaranya  ialah  kabilah  Banu  Sa'd.
Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah
menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya,
Abu  Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah
yang juga kemudian disusukannya. Jadi  mereka  adalah  saudara
susuan.

Sekalipun  Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun
ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya.
Setelah  wanita  itu  meninggal  pada tahun ketujuh sesudah ia
hijrah ke Medinah,  untuk  meneruskan  hubungan  baik  itu  ia
menanyakan  tentang  anaknya yang juga menjadi saudara susuan.
Tetapi kemudian  ia  mengetahui  bahwa  anak  itu  juga  sudah
meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya  datang  juga  wanita-wanita  Keluarga Sa'd yang akan
menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang  akan
mereka  susukan.  Akan  tetapi  mereka  menghindari  anak-anak
yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa  dari
sang  ayah.  Sedang  dari  anak-anak yatim sedikit sekali yang
dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di  antara  mereka  itu
tak  ada  yang  mau  mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat
hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat  mereka
harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang pada mulanya menolak
Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat
bayi  lain  sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang
seorang  wanita  yang  kurang  mampu,  ibu-ibu  lainpun  tidak
menghiraukannya.  Setelah  sepakat  mereka  akan  meninggalkan
Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya:
"Tidak  senang  aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa
membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim  itu
dan akan kubawa juga."

"Baiklah,"  jawab  suaminya.  "Mudah-mudahan  karena itu Tuhan
akan memberi berkah kepada kita."

Halimah  kemudian  mengambil  Muhammad  dan  dibawanya   pergi
bersama-sama   dengan   teman-temannya   ke   pedalaman.   Dia
bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa  mendapat
berkah.   Ternak   kambingnya   gemuk-gemuk   dan   susunyapun
bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal di  sahara,  disusukan  oleh
Halimah  dan  diasuh oleh Syaima', puterinya. Udara sahara dan
kehidupan pedalaman yang  kasar  menyebabkannya  cepat  sekali
menjadi  besar,  dan  menambah  indah  bentuk  dan pertumbuhan
badannya. Setelah cukup dua tahun dan  tiba  masanya  disapih,
Halimah  membawa  anak  itu  kepada  ibunya  dan  sesudah  itu
membawanya kembali ke  pedalaman.  Hal  ini  dilakukan  karena
kehendak  ibunya,  kata sebuah keterangan, dan keterangan lain
mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa  kembali
supaya  lebih  matang,  juga  memang  dikuatirkan  dari adanya
serangan wabah Mekah.

Dua tahun lagi anak itu tinggal  di  sahara,  menikmati  udara
pedalaman  yang  jernih  dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu
ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya  mencapai  tiga  tahun,  ketika
itulah  terjadi  cerita  yang  banyak dikisahkan orang. Yakni,
bahwa  sementara  ia  dengan  saudaranya  yang  sebaya  sesama
anak-anak   itu  sedang  berada  di  belakang  rumah  di  luar
pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa'd
itu   kembali   pulang  sambil  berlari,  dan  berkata  kepada
ibu-bapanya: "Saudaraku yang dari Quraisy  itu  telah  diambil
oleh  dua  orang  laki-laki  berbaju  putih.  Dia dibaringkan,
perutnya dibedah, sambil di balik-balikan."

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan,  bahwa  mengenai
diri  dan suaminya ia berkata: "Lalu saya pergi dengan ayahnya
ke  tempat  itu.  Kami  jumpai  dia  sedang  berdiri.  Mukanya
pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami
tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh
dua  orang  laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu
perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu
aku apa yang mereka cari."

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat
ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah  itu,
dibawanya  anak  itu  kembali  kepada  ibunya  di  Mekah. Atas
peristiwa ini Ibn Ishaq  membawa  sebuah  Hadis  Nabi  sesudah
kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq
nampaknya  hati-hati  sekali  dan   mengatakan   bahwa   sebab
dikembalikannya  kepada  ibunya bukan karena cerita adanya dua
malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah
-  ketika  ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada
beberapa orang Nasrani  Abisinia  memperhatikan  Muhammad  dan
menanyakan   kepada   Halimah  tentang  anak  itu.  Dilihatnya
belakang anak itu, lalu mereka berkata:

"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di  negeri  kami.
Anak  ini  akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui
keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri  dari
mereka  dengan  membawa  anak  itu.  Demikian juga cerita yang
dibawa oleh Tabari, tapi  ini  masih  di  ragukan;  sebab  dia
menyebutkan   Muhammad   dalam   usianya   itu,  lalu  kembali
menyebutkan  bahwa  hal  itu  terjadi   tidak   lama   sebelum
kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.

                                    (bersambung ke bagian 2/3)

---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D